Showing posts with label Belajar. Show all posts
Showing posts with label Belajar. Show all posts

Saturday, June 25, 2011

Mengenal Cara Kerja Alat Deteksi Kebohongan / Lie Detector


Penggunaan teknologi canggih di bidang penegakan hukum, semisal LIE DETECTOR untuk mengungkap tingkat kebohongan tersangka, membuat kita semua bertanya-tanya bagaimana cara kerjanya.

Nah ane tertarik mengulas bagaimana prinsip kerja alat tersebut.sama dengan pesatnya teknologi. Terdapat dua jenis pencatat kebohongan ini, yang berupa digital yang sudah terkomputerisasi dan ada yang berupa sebuah papan mesin portabel.

LIE DETECTOR Digital
LIE DETECTOR Portabel

Orang-orang berbohong dan menipu orang lain karena berbagai alasan. Paling sering, BERBOHONG adalah mekanisme pertahanan yang digunakan untuk menghindari masalah dengan hukum, atasan atau figur otoritas. Terkadang, Anda dapat mengetahui bahwa seseorang itu berbohong, tetapi lain waktu mungkin tidak begitu mudah. Polygraphs, atau yang biasa disebut “detektor kebohongan/lie detector” adalah alat yang memantau seseorang melalui reaksi fisiologis.

Tampak bagian jari jari orang yang di tes
di pasangi sebuah sensor yang terhubung ke mesin

Sebuah instrumen poligraf pada dasarnya adalah kombinasi alat-alat medis yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi dalam tubuh. seseorang akan ditanya tentang peristiwa atau kejadian tertentu, para pemeriksa (operator alat lie detector sekaligus biasanya seorang penyidik atau forensic psychophysiologist ) tampak melihat bagaimana detak jantung, tekanan darah, laju pernapasan dan aktivitas elektro-dermal (keringat, dalam kasus ini jari-jari) perubahan perbandingan tingkat normal.

Fluktuasi mungkin menunjukkan bahwa orang ini sedang menipu atau berbohong. Lie Detector mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector

Saat seseorang melakukan sebuah tes kebohongan, maka orang tersebut akan dipasangkan 4 sampai 6 sensor, dan dihubungkan dengan sebuah gambar grafik yang menunjukkan hasil hasil dari pertanyaan yang diajukan. Sensor sensor tersebut biasanya merekam aktifitas seperti yang disebutkan diatas. Kadang-kadang poligraf juga akan mencatat hal-hal seperti gerakan lengan dan kaki.

Ketika tes poligraf dimulai, sang investigator atau penanya akan memberi 3-4 pertanyaan yang simpel dan sederhana dengan jawaban yang diketahui dengan tujuan untuk membentuk suatu fisiologis “dasar”. setelah itu beranjak ke pertanyaan berat yang kemudian indikatornya bisa ditampilkan dalam sebuah grafik naik turun mirip sebuah sesimograph pencatat gempa.


Keterangan gambar:

Tampak diagram yang ditampilkan dalam bentuk garis garis yang menandakan alur pernafasan kita (respiration rate).


Line kedua adalah bagaimana kondisi ujung jari kita saat tes berlangsung (mengcakup keringat yang ada di jari) dan line ketiga adalah kondisi tekanan darah pada saat pemeriksaan.
Tampak diatas sensor-sensor juga dipasang
di sekitar dada dan lengan
untuk mendeteksi nadi dan jantung

Berikut sensor-sensor yang terpasang ke tubuh kita saat melakukan sebuah tes kebohongan:

1. Sensor Respiratory Rate (Pneumographs)
Berwujud tabung karet yang berisi udara dan di ikatkan mengelilingi area perut/dada. Ketika dada atau otot-otot perut mengembang, udara di dalam tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar. Tanda di kertas bergulir jika subjek mengambil napas. Poligraf digital juga menggunakan Pneumographs, tetapi menggunakan Transduser untuk mengubah energi udara yang dipindahkan ke sinyal elektronik.

2. Sensor Tekanan Darah
Sebuah alat pengukur tekanan darah ditempatkan sekitar lengan (mirip alat tes tekanan darah pada medis). Alat ini mencatat perubahan-perubahan dalam tekanan darah dan dengan sebuah alat data tersebut dikirim dan dimunculkan dalam Grafik.

3. Galvanic Skin Resistance (GSR)
Ini juga disebut pencatat aktivitas elektro-dermal dan pada dasarnya adalah pengukur dari keringat di ujung jari anda (di pasang 2 sensor di ujung jari anda). Ujung jari adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya adalah jika kita berkeringat maka kita sedang dalam tekanan dan alami muncul disaat orang berbohong. Fingerplates yang disebut galvanometers, melekat pada dua dari jari-jari subjek. sensor ini mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Ketika kulit terhidrasi (seperti keringat), itu menghantarkan listrik jauh lebih mudah daripada saat kering dan semua data data ini tercatat pula di grafik.

Sumber: Kabaena.forumplatinum.com dan Kaskus.us

Wednesday, June 22, 2011

Renungan Mengapa Harus Ada Pelajaran Matematika ?


Suatu saat ada siswa bertanya, mengapa harus ada pelajaran matematika di sekolah?
Melihat dari mimik mukanya dan mendengar nadanya bertanya, saya lebih cenderung untuk menyatakan, bahwa siswa tersebut bertanya karena kesal, daripada benar-benar ingin tahu sebabnya mengapa.

Dia kesal karena pelajaran matematika baginya dirasakan lebih banyak menyusahkannya daripada menyenangkannya. Pelajarannya susah dimengerti, PR nya susah dikerjakan, lagipula banyak jumlahnya. Belum lagi bapak-ibu guru sering memasang wajah 'seram' dengan harapan dapat lebih berwibawa (?). Dia juga rupanya tidak tahu apa gunanya belajar matematika itu. Pokoknya dia merasa sama sekali tidak tertarik dan tidak butuh akan pelajaran tersebut.




Memang dari dulu sampai sekarang pelajaran matematika umumnya dijauhi dan dihindari anak-anak. Mengapa? Mungkin beda pandangan terhadap pelajaran tersebut antara orang tua, siswa dan guru sehingga menimbulkan perbedaan motivasi dari ketiganya.

Orang tua yang menganggap matematika itu memang pelajaran yang susah, apalagi mengingat sejak dari dia masih bersekolah dulu, tidak pernah mendapat nilai yang baik, merasa tidak perlu mendorong putra putrinya untuk mempelajarinya lebih baik lagi, apalagi melihat nilai putra putrinya ternyata sudah jauh lebih baik dari dirinya sendiri.


Mungkin pula sebaliknya, justru dulu dia tidak bisa, sekarang anak-anaknya harus bisa. Bahkan sedemikian pentingnya matematika itu, sehingga dia memberi dorongan yang berlebihan. Yang penting harus jadi juara. Mula-mula juara kelas, lama lama juara dunia. Sehingga dengan tidak disadari, dia lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri daripada kepentingan sang anak. Apalagi untuk ingat apakah anaknya itu suka atau tidak terhadap matematika, bahagia atau tidak karenanya, itu tidak penting, sebab seringkali orang tua beranggapan sebagai seorang anak yang baik harus menurut saja apa kata orang tuanya.


Mungkin juga disebabkan oleh guru yang sedemikian terobsesi dengan matematika, sehingga terjebak dalam perolehan angka anak-anak dalam setiap tes yang diberikannya, tidak peduli anak memahami atau tidak, yang penting 'dapat' mengerjakan tes dengan hasil yang bagus, sekalipun dengan jalan tidak jujur. Atau mungkin juga ada rekan guru yang terjebak pemikiran bahwa kita bisa mengajarkan apa saja, kepada anak umur berapa saja asal dengan cerdik.


Kebanyakan guru berhenti mengajar sebatas semua bahan telah selesai diajarkan, dan bukan sebatas sampai anak bisa. Paling jauh sebatas sampai anak mengerti.

Untuk dapat sampai pada batas 'anak bisa', banyak sekali yang harus diusahakan dan dikerjakan, bahkan guru harus merelakan sisa waktunya untuk melengkapi, mengulang, menjelaskan sekali lagi dengan cara yang berbeda, bukan saja berbeda dengan cara yang baru saja diterangkan, tetapi berbeda untuk anak yang satu dengan lainnya, di luar jam sekolah.
Dan juga berusaha untuk mengetahui apa, bagaimana, mengapa dan pada bagian mana anak tersebut 'tidak bisa', agar tepat sasaran dan tidak buang waktu. Untuk itu semuanya, jelas guru tidak bisa atau tidak mau melaksanakannya karena tidak ada waktunya. Karena menurut pepatah: "Time is Money", maka tidak ada waktunya bisa diganti jadi tidak ada duitnya. Bukankah lebih santun mengatakan, maaf tidak ada waktunya, daripada maaf, tidak ada duitnya (?!).

Mungkin juga disebabkan karena anaknya sendiri yang tidak menyukai pelajaran tersebut. Atau mungkin pula pada mulanya dia termotivasi untuk mempelajarinya, namun lama kelamaan menjadi tumpul atau ditumpulkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Oleh saudara-saudaranya yang lebih tua atau kakak-kakak kelasnya di sekolah yang menyatakan matematika itu makin lama akan makin sulit dan itu pasti akan menyengsarakannya.


Mungkin juga karena sudah sedemikian jauh mempelajari matematika, masih belum tahu apa gunanya, seolah-olah matematika itu jauh sekali dari kehidupannya sehari-hari.


Sebetulnya masih banyak lagi sebab untuk itu, seperti misalnya guru kurang mempersiapkan diri dengan baik, beban pengajaran yang tidak merata, pertahapan penyajian materi yang kurang benar, kurikulum yang meragukan, dan sebagainya. Mungkin pula bapak-ibu guru terlalu cepat memberikan penilaian buruk terhadap jawaban anak-anak, sehingga anak-anak terdorong untuk mencari jawaban benar menurut bapak-ibu guru dari pada benar menurut dirinya sendiri.

Lama kelamaan anak-anak pun tidak berani dan tidak mau angkat tangan lagi menjawab pertanyaan guru.

 

Kalau saja dari sejak mula pertama anak diperkenalkan dengan matematika dengan biasa-biasa saja, tidak ditakut-takuti, lebih baik lagi kalau kesan pertamanya mudah dan menyenangkan, saya yakin semua kemelut tentang matematika tidak akan ada, atau setidaknya mudah diatasi.


Bagaimana pendapat Anda ?

Sumber: Facebook Renungan Seorang Guru 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...